.

Minggu, 06 Maret 2011

Hukum Mati Koruptor!

 Setyawan
Menanggapi makin maraknya beberapaskandal korupsi kepala daerah dan sejumlah instansi pemerintahan belakanganini, jelas terlihat jika koruptor bersanding mesra dengan kekuasaan. Hal itusebagai bukti jika sekarang Indonesia sudah krisis pemimpin yang mempunyaitanggung jawab moral kepada bangsa dan negaranya. Bagi rakyat kecil, sebaiknyajangan lagi terlalu berharap dengan jaminan kesejahteraan masa depan kepadapemerintahnya sendiri. Karena, sudah pasti nasib rakyat tak akan pernahterlintas di benak para pejabat yang korup. 

Kalau pejabat korup itu ingat rakyat, sudah pasti itu hanya akan dijadikanobyek jualan politik yang ujungnya keuntungan sepihak.

Jika hal itu tidak segeradihentikan, akibatnya, akan muncul naluri purba dalam kehidupan berbangsa danbernegara. Termasuk di dalamnya akan terjadi people power di mana semua akansaling memangsa dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. 

Selain itu tipe korupsi saat ini sudah mulai beralih dari pribadi menjadisindikat. Di mana kekuasaan atas sistem, menjadi alat ampuh untuk memuluskanperbuatan koruptor. Para oknum pejabat yang korup memandang korupsi sebagaiperadaban. Beda dengan rakyat yang memandangnya sebagai perbuatan biadab. Jadijangan heran kalau dalam melakukan aksinya, garis komando pun berlaku di linipara koruptor ini. 

Selain itu bobroknya sistem hukum,juga merupakan angin segar tersendiri bagi para koruptor. Artinya para koruptorsudah berhitung, misal mereka korupsi Rp 20 miliar, jika dipotong dengan uangsogokan kepada oknum penegak hukum pasti masih dapat untung miliaran rupiah.Bahkan jika dipenjara sekali pun, seperti Artalyta Suryani terbukti justrumakin nyaman dalam penjara.

Tanpa adanya sanksi tegas bagi koruptor, dikhawatirkan rakyat akan ikut-ikutanpermisif terhadap perbuatan kriminal lainnya. Yang paling parah adalahmunculnya pengabaian terhadap nilai-nilai moralitas berke-Tuhan-an. Jadi,percuma saja seorang koruptor ditantang sumpah pocong, dan ditakut-takutipenjara seumur hidup karena pasti sudah tak akan takut lagi. Maling ayam sajadigebuki sampai mati, masak koruptor miliaran rupiah malah makin gendut badandan rekeningnya? 

Untuk itulah sekiranya menjadisangat wajar dan manusiawi jika wacana hukuman mati bagi koruptor harus kitadengungkan kembali, berapa pun jumlah nominal yang dikoruptornya. Karena jikadihitung secara matematis, hanya hukuman itulah yang setimpal dengan perbuatanyang dilakukannya. (den)

http://www.harianjoglosemar.com/

0 komentar:

Posting Komentar

 
... ...

Radar Korupsi Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts