.

Sabtu, 24 September 2011

Posisi Para Pemimpin

Dalam setiap komunitas selalu  terdapat seseorang atau sekelompok orang yang disebut sebagai pemimpin. Para pemimpin biasanya diperlakukan secara khusus, yaitu dihormati, diikuti nasehat-nasehatnya,  dan juga dijadikan sebagai tauladan. Selain itu pemimpin biasanya juga menjadi kebanggaan bagi para pengikutnya.  
Keluarga sebagai unit terkecil dari sebuah masyarakat, biasanya suami dianggap  sebagai pemimpinnya.  Suami di hadapan  anggota keluarga,  biasanya didengarkan ucapannya, perilakunya dijadikan sebagai acuan, ditauladani,  dan juga disegani oleh isteri dan para anak-anaknya. Kehidupan keluarga yang demikian akan berhasil mewujudkan kedamaian dan ketenteraman. Di antara mereka akan terjadi  saling memahami, menghargai, terjalin kasih sayang,  dan saling tolong menolong. 
Posisi pemimpin, baik dalam komunitas kecil serperti keluarga maupun komunitas besar seperti negara,  menjadi sangat strategis untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis, bersatu,  dan penuh dengan kedamaian. Oleh karena itu para pemimpin tidak hanya sebatas  menunaikan tugas-tugas manajerial,  melainkan yang lebih penting dari itu  adalah pelakukan peran-peran sebagai tauladan, kebanggaan   dan bahkan juga tumpuan  harapan untuk mendapatkan rasa ketenangan dan keadilan bagi semua warganya. 
Akhir-akhir ini, dalam kehidupan bangsa,  posisi pemimpin  terasa kurang ditempatkan  sebagaimana mestinya.  Sehari-hari  terdapat pemimpin yang dikritik, dituduh,  dan bahkan dicacimaki.  Kegiatan  berdemo terhadap para  pemimpin dianggap hal biasa. Pemimpin seakan-akan  boleh-boleh saja diperlakukan secara sembarangan. Bahkan  aneh sekali, demonstrasi juga ditujukan kepada guru dan atau pimpinan lembaga pendidikan oleh  anak-anak dan mahasiswa  di kampus-kampus. 
Perlakuan terhadap  sementara pemimpin  sebagaimana dikemukkan tersebut,   sudah barang tentu,  banyak faktor yang menyebabkannya. Di antaranya adalah oleh karena perilaku pemimpin yang bersangkutan. Pada umumnya,   rakyat  selalu menghormati  pemimpinnya.   Sebab, dalam berbagai kehidupan,  mereka  selalu membutuhkan  peran-peran pemimpin.  Rakyat membutuhkan pengayoman, rasa aman, petunjuk, bimbingan,  dan juga ketauladanan. 
Akan tetapi  ketaatan dan penghormatan itu akan menjadi  runtuh   manakala para pemimpin tidak berhasil memenuhi harapan itu, dan apalagi mereka dianggap menyimpang dan berlaku tidak adil. Sikap-sikap ketundukan dan ketaatan akan berubah menjadi perlawanan atau setidak-tidaknya apatis  manakala pemimpinnya dianggap tidak  berperilaku atau menjalankan peran-peran yang diharapkan. 
Persoalan bangsa yang mendasar pada saat ini,   di antaranya adalah dalam hal menempatkan  para pemimpin pada posisi yang sebenarnya. Pemimpin  yang seharusnya dihormati, hihargai, ditauladani, dan dibanggakan,  dan lain-lain, sudah  tidak selalu terjadi. Seolah-olah sudah menjadi  hal biasa,  pemimpin dituduh, dijadikan tersangka dan bahkan juga dimasukkan ke penjara. Tentu saja hal itu akan melahirkan kekecewaan yang luar biasa, dan akibatnya  terjadi,   seolah-olah tidak ada lagi pemimpinnya. Bangsa tidak saja memerlukan pejabat, tetapi juga pemimpin. Kekosongan pemimpin  seperti itu,  jika direnungkan secara mendalam,  sebenarnya adalah sangat berbahaya. 
Oleh sebab itu,  seharusnya siapapun harus menjaga posisi strategis para pemimpin, lebih-lebih pemimpin bangsa. Setiap masyarakat selalu membutuhkan kehadiran pemimpin. Kedamaian dan ketentraman dan bahkan kemakmuran hanya akan tercapai manakala terdapat pemimpin yang dihargai, dihormati, dipercaya,  dan menjadi kebanggaannya. Hal apa saja yang menjadikan runtuhnya kewibawaan pemimpin  seharusnya dihindari oleh semua pihak, dan tidak terkecuali oleh pemimpin itu sendiri. Wallahu a’lam.     

0 komentar:

Posting Komentar

 
... ...

Radar Korupsi Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts