.

Selasa, 08 Maret 2011

Saya Koruptor, Siapa Bilang Korupsi Haram?


Saya tahu korupsi banyak dihujat. Semua membicarakan korupsi. Mengkritik memaki-maki bahkan sampai ada yang menulis koruptor itu anjing. Tapi pendapat saya lain. Bagi saya korupsi itu tidak haram. Bahkan sangat sejalan dengan ajaran agama. Dan sebagai koruptor, saya sudah mengamalkannya. Saya adalah seorang koruptor sekaligus seorang yang taat beragama (Islam). Kenapa saya katakan korupsi itu tidak haram dan sejalan dengan ajaran agama? Inilah alasan saya:

Pertama:
Karena dapat uang banyak dari korupsi maka saya bisa membantu banyak orang. Apa dan siapa saja bisa saya bantu. Tidak seperti yang terjadi pada rakyat miskin yang bodoh. Yang cuma taat berdo’a tapi uang tidak punya. Hidup susah banyak mengomel akhirnya minta-minta ke sana kemari. Bahkan tidak bosan-bosannya berdo’a pada Tuhan. Pakai nangis-nangis segala. Tapi Tuhan tidak pernah diberi. Mereka tertipu.

Justru dengan korupsilah jalan lurus mencari uang. Malah tergolong jalan tol. Sekali tembak dooorrr…. Sekian triliun meledak. Langsung deh saya menjadi Tryliuner. Apa yang tidak bisa saya beli. Apalagi membantu. Saya bisa membantu satu pulau fakir miskin. Saya bisa membantu membelikan peci dan sarung untuk sebanyak 1.000 000 000 ustad. Dan saya juga bisa membantu mesjid pada satu provinsi.

Apa reaksi mereka yang saya bantu? Tentu saja mereka senang. Mereka akan simpati pada saya. Mereka akan yakin bahwa saya begitu peduli pada agama Islam. Singkatnya saya akan mendapatkan citra yang baik di mata mereka. Dan ujung-ujungnya? Mereka akan memilih saya pada Pilkada atau Pilpres, bahkan kalau ada Pilnabi dan Piltuhan saya pun tetap akan mereka pilih. Walaupun mereka tidak tahu bahwa mereka sudah saya tipu. Sudah saya politisir.

Apakah mereka tidak tahu akal bulus saya? Bagaimana mereka bisa tahu. Wong mereka tolol semua. Buta politik. Kerja cuma ibadah ibadah ibadah. Setelah itu dakwah, slogan, umbul-umbul. Justru di situ saya masuk. Saya akan memompa bahwa kita harus menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bla bla bla. Kita harus menghormati antar agama. Tidak boleh menyinggung-nyinggung SARA. Di internet pun saya keluarkan peraturan. Tidak boleh menulis konten SARA. Karena itu bisa merusak persatuan dan kesatuan Bangsa. Yang penting adalah damai damai damai.

Akhirnya mereka takut menulis tentang agama. Takut dibredel takut di sentrum Fatwa. Wong yang bikin fatwa juga saya yang ngatur. Hehe.. Maka tidurlah otak umat beragama. Tiaraplah sikap kritis mereka. Sehingga lam-lama mereka tidak terbiasa berpikir kritis. Jadi nrimo setiap keputusan dan peraturan. Maka saya masuk ke jalur agama. Masuk melalui buku-buku pelajaran agama. Saya setting seperti apa materi agama yang diajarkan di sekolah-sekolah. Termasuk buku-buku panduan agama yang boleh beredar di pasaran. Jika ada yang diluar yang saya tetapkan? Hmm.. Bredel. Ditarik dari peredaran dan penulisnya masuk bui. Sikat ! Dibunuh karakternya.

Apa hasilnya?
Mereka penuh ketakutan untuk berpikir kritis. Mereka tidak berani lantang. Mereka tunduk dan patuh pada peraturan. Dan itu dikaitkan dengan agama. Tidak boleh berlaku ekstrem. Agama mengajarkan tidak boleh berlebihan. Termasuk berpikir berlebihan. Sudah taati saja. Nah loh! Disitu saya masuk. Dengan teman-teman dan grup koruptor saya. Mereka sibuk taat dan patuh. Kami sibuk bermain dibalik layar. Maka asal ada gonjang-ganjing SARA maka saya dan para koruptor jadi pahlawan. Kenapa? Karena sentimen keagamaan sudah ditanam bibit-bibitnya melalui larangan menyentuh berhala yang bernama larangan isu SARA. Akhirnya mereka jadi sangat sensitif. Sedikit saja dipicu byaarrr … langsung meledak. Nah itu kekuatan bagi saya. Semakin mereka mudah tersinggung antar agama dan antar paham, maka makin empuk untuk mereka dipolitisir. Cantik kan? 

Jadi singkatnya, mereka akan dininabobokan oleh ketololan mereka sendiri. Dan rumusnya? Semakin mereka taat beribadah, semakin mereka fanatik, maka semakin empuklah saya menari diatas ketololan mereka. Hahaha …. Ini politik Bung. Makanya jangan jadi orang tolol. Nggak cukup cuma dengan taat-taat nggak karuan. Sampean rajin berdo’a pada Tuhan agar para koruptor dimusnahkan oleh Tuhan. Pakai do’a massal segala. Nangis-nangis lagi pada Tuhan walah walah… mana. Mana buktinya Tuhan menolong sampeyan. Nggak ada kan?

Tau nggak sih?
Negara ini dalam genggaman saya. Bukan dalam genggaman Tuhan yang ada dalam khayalan sampeyan. Tuhan cuma diam Hehe…! 

Kedua:
Itu manfaat pertama saya korupsi. Sekarang yang kedua. Dengan banyaknya uang saya, saya bisa punya buaaanyak isteri. Siapa yang tidak mau kawin dengan saya. Wong cewek-cewek Indonesia ini rata-rata pada lapar semua. Wajah cantik body seksi tapi uang tidak punya nah …klop. Saya bisa menjaring 10 isteri atau lebih.  Di sinilah pentingnya dalih poligami. Berarti saya sudah pantas berpoligami. Karena saya sudah bisa menafkahi banyak orang. Bisa membantu para wanita-wanita montok yang saya pilih.

Yang keriput? Ah .. itu di zaman Nabi. Soal siapa yang akan dikawini kan tidak ditentukan oleh Islam. Nikahilah oleh mu perempuan yang cantik rupanya. Terakhir baru agamanya. Begitu kan dalam hadisnya kalau saya tidak salah. Ya …. Itu kan kedok saya saja. Wong saya poligami karena nafsu kok. Karena anu kok. Tapi siapa yang tahu. Yang dijelaskan dalam agama kan cuma apakah seorang muslim sudah sanggup untuk poligami. Apakah mereka sudah bisa berlaku adil. Ya nyatanya saya sudah bisa. Saya bisa bagi jam dinas saya di masing-masing rumah isteri saya. Saya bisa kasi uang sama banyak (dalam teori).

Kenapa saya bisa adil? Ya karena para isteri group ini sudah melewati proses seleksi. Pada ranum semua yang saya pilih. Jadi nggak masalah anu saya mau mendarat di landasan pacu yang mana. Kalau ada yang keriput mana bisa saya adil. Iya kan?

Terbukti kan korupsi sejalan dengan ajaran agama. Saya bisa poligami. Banyak orang yang saya bantu. Makanya Nabi juga berpesan carilah harta sebanyak-banyaknya. Seolah-olah kamu akan hidup selamanya. Dan beribadahlah seolah-olah kamu akan mati besok pagi.

Soal ibadah? Saya rajin. Diamana ada sholat yang ramai. Dimana ada acara-acara keagamaan, MTQ, Lebaran, Jumatan, dan …pokoknya dimana orang banyak bisa melihat saya, ya saya sudah hadir duluan di situ. Jadi saya dimata orang banyak,  benar-benar Islami. Itu penting lho. Citra bro citraaa…

Ketiga:
Lho tapi cara Bung Erianto Anas mendaptkan uang dengan jalan korupsi kan tidak halal Bung?
Tidak halal? Berdosa? Hehe… sampeyan taat tapi tidak punya ilmu agama. Kan ada itu entah hadis kalau nggak salah. Nanti di akhirat akan ditimbang pahala dan dosa seorang muslim sebelum diputuskan Tuhan apakah dia akan masuk sorga atau neraka. Mana yang lebih banyak pahala apa dosanya. Nah, disitu kan klopnya. Taroklah saya berdosa karena korupsi. Tapi jumlah orang yang saya bantu berapa?

Berapa fakir miskin, gedung panti asuhan, mesjid, para ulama yang saya belikan peci dan sarung, Jumlah ustad dan ulama yang saya bantu untuk naik haji ke Mekkah berapa, dan .. pokoknya banyaklah. Nah berapa itu pahalanya. Oya ada yang tinggal. Jumlah pahala saya dari poligami berapa? Isteri saya ada 2 lusin. Berapa itu orang yang saya bantu. Coba anda hitung. Bisa kalahkan jumlah dosa korupsi. Maka masuk sorga juga kan saya akhirnya.

Di dunia ini hidup saya nikmat lezat dan surrr. Eh di akhirat saya juga masuk sorga. Nah kalau sampeyan? Sudah lah morat marit dan bau sorga di dunia eh… di akhirat malah ditendang ke neraka. Apa alasan Tuhan? Sampeyan pemalas. Bodoh. Nggak ada point pahala pada bantuan sosial. Cuma ritual ibadah sholat doa dan puasa saja. Paling tinggi cuma naik haji. Itupun sudah sampai menggadaikan sawah dan ternak di kampung. Nah lho, pulang haji hidup malah kacau. Karena harta benda sudah ludes.

Hahaha … hayoo gimana?
Sejalan gak korupsi dengan nilai-nilai agama..?
Jangankan haram, jadi mendukung malah kan?
Gimana hayoo … 

dari: http://agama.kompasiana.com/2011/01/03/saya-koruptor-siapa-bilang-korupsi-haram/

0 komentar:

Posting Komentar

 
... ...

Radar Korupsi Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts